Senin, 04 November 2013

Persepsi Konsumen (Bab 6)




Salah satu cara untuk mengetahui perilaku konsumen adalah dengan menganalisis persepsinya terhadap produk. Dengan persepsi konsumen, perusahaan dapat mengetahui hal-hal apa saja yang  menjadi kekuatan atau kelemahan, kesempatan ataupun ancaman bagi produk yang dipasarkan. Hal ini karena persepsi konsumen merupakan salah satu faktor internal konsumen yang mempengaruhinya mengambil keputusan (Foedjiawati, Hatane Semuel. 2007: 6).
Persepsi Konsumen adalah suatu proses yang membuat seseorang memilih, mengorganisasikan, dan menginterpretasikan rangsangan-rangsangan yang diterima menjadi suatu gambaran yang berarti dan lengkap tentang dunianya.
Dari  definisi  tersebut  diatas,  kita  mengetahui  bahwa  seseorang  termotivasi untuk  membeli  adalah  dipengaruhi  oleh  persepsinya  terhadap  situasi  yang dihadapinya, sedangkan apa yang dipersepsikan seseorang dapat cukup berbeda dari kenyataan  yang  objektif.  Individu-individu  mungkin  memandang  pada  satu  benda yang  sama  tetapi  mempersepsikan atau mendeskripsikannya  secara  berbeda.

Stimuli Pemasaran dan Persepsi Konsumen
Stimuli pemasaran adalah sedmua bentuk komunikasi aatau stimuli fisik yang dimaksudkan untuk mempengaruhi konsumen. Produk dan unsure-unsurnya, yakni kemasan, isi, ciri-ciri fisik produk merupakan stimuli primer (intrinsik). Komunikasi yang dirancang untuk mempengaruhi perilaku konsumen disebut simuli sekunder ekstrinsik), baik dalam berupa kata-kata, gambar, dan pencitraan atau dalam bentuk stimuli lain yang berkaitan dengan produk, misalnya harga, display took, dan efek wiraniaga.

Karateristik Stimulus yang Mempengaruhi Persepsi
·        Unsur Indrawi, terdiri dari warna, bau, rasa, bunyi dan raba.
1.   Warna : memiliki konotasi indrawi yang penting. Contoh, Satu penelitian menguji satu merek deodorant roll-on yang dikemas dalam tiga tabung dengan warna yang berbeda.  Kebanyakan konsumen yang dijadikan responden menyimpulkan produk berwarna tertentu cepat mongering dan efektif, produk kedua dengan warna yang lain tidak efektif dan menimbulkan iritasi. Ini terjadi karena faktor perbedaan warna,
2.   Rasa : dapat mempengaruhi persepsi konsumen terhadap merek.  Contoh, ketika PepsiCo meluncurkan Crystal Pepsi untuk memenuhi selera konsumen yang menyukai rasa alami dan ringan, dengan cepat mereka mampu mendapatkan 2 % bagian pasar minuman ringan. Namun tidak lama kemudian merosot. Kenapa? Karena ternyata konsumen berharap rasanya akan seperti Pepsi Reguler, padahal Crystal jelas rasanya lebih ringan. Keadaan ini  diperparah dengan masalah warna.  Sebagian besar  konsumen mengasosiasikan kejernihan dengan alami dan sehat, namun konsumen lain mengasosiasika dengan air biasa.
3.   Bau : terutama menjadi penting bagi produk-produk kosmetik dan makanan.
4.   Bunyi : merupakan stimulus indrawi yang penting. Beberapa iklan produk untuk kalangan menengah kebawah di Indonesia diberikan back-sound music dangdut, sementara itu untuk produk yang ditujukan untuknkalangan atas diiringi music klasik. Namun demikan pemasar harus berhati-hati dan melakukan test terlebih dahulu untuk mamastikan jenis music tertentu memang dapat menciptakan sosiasi positif terhadap merek.

·        Unsur Struktural
Sejumlah temuan tentang elemen structural yang kemudian diterapkan dalam iklan cetak telah banyak diterbitkan dalam bentuk penelitian

Karateristik Konsumen yang Mempengaruhi Persepsi
Dua karateristik penting yang turut mempengaruhi persepsi konsumen terhadap stimuli adalah kemampuan membedakan stimuli dan kemampuan menggeneralisasi satu stimuli kepada stimulus yang lainnya.
Kemampuan membedakan stimuli merupakan hal yang dapat dipelajari. Umumnya konsumen yang loyal akan lebih mampu mengenali perbedaan-perbedaan kecil dalam karateristik produk berbagai merek. Namun secara umum, kemampuan konsumen untuk membedakan cirri-ciri indrawi seperti rasa dan perabaan bisa dikatakan sangat rendah.
Oleh karena itu pemasar lebih banyak menggunakan media, dalam hal ini iklan, untuk menegaskan diferensiasi merek yang tidak bisa dicerminkan hanya oleh cirri-ciri fisik produk semata. Iklan berperan penting dalam menciptakan brand image.

Proses Persepsi
Proses persepsi melalui tahapan-tahapan sebagai berikut (Desy Arisandy. 2004 : 7):
1.   Penerimaan rangsang
Pada proses ini, individu menerima rangsangan dari berbagai sumber.  Seseorang lebih senang memperhatikan salah satu sumber dibandingkan  dengan sumber lainnya, apabila sumber tersebut mempunyai kedudukan  yang lebih dekat atau lebih menarik baginya.
2.   Proses menyeleksi rangsang
3.   Setelah rangsang diterima kemudian diseleksi disini akan terlibat proses perhatian. Stimulus itu diseleksi untuk kemudian diproses lebih lanjut.
4.   Proses pengorganisasian
5.   Rangsang yang diterima selanjutnya diorganisasikan dalam suatu bentuk
6.   Proses penafsiran

Peran Ekspektasi Pada Persepsi
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, Zeithaml dan Bitner (1996:77) menyatakan terdapat 2 jenis dari ekspektasi, yaitu desired service dan adequate service. Ekspektasi dari konsumen akan menciptakan kedua hal tersebut yang dipengaruhi dari tingkat harapan mereka sendiri.
Desired service ialah ekspektasi konsumen dimana konsumen menginginkan mendapatkan pelayanan yang kualitasnya tinggi dan sesuai atau lebih baik dengan apa yang diharapkan pada awalnya.
Sedangkan adequate service ialah ekspektasi yang timbul karena konsumen yang sadar bahwa karena alasan tertentu desired service mungkin saja tidak dapat tercapai, sehingga konsumen menurunkan harapannya akan suatu kualitas pelayanan ke level yang lebih rendah, namun masih berada pada area yang dapat ditoleransi.

Area pelayanan yang dapat ditoleransi disebut sebagai zone of tolerance, dimana pada area ini konsumen masih dapat menerima pelayanan yang kurang sesuai dengan apa yang diharapkan (desired service) apabila pelayanan yang diberikan tidak lebih rendah daripada adequate service.

Semiotic
Charles S.Peirce, penemu modern semiotics, mendefinisikan semiosis sebagai hubungan antara tanda, objek, dan makna.
·        Orang yang menginterpretasikan tanda disebut interpreter.
·        Gambaran objek yang dibentuk interpreter dari sebuah tanda disebut interpretant.
Contoh: kata mobil sebagai tanda, seseorang yang memberi makna sebagai interpreter dan bayangan alat transportasi beroda empat sebagai interpretant.
·        Makna sebuah tanda dalam mewakili sebuah objek tergantung dari interpreter yang masing-masing punya field of experience, dan frame of references berbeda-beda.

Implikasi Pemasaran dari Inferensi Perseptual
Konsumen mengembangkan inferensi atau kesimpulan mengenai merek, harga, toko dan perusahaan. Kesimpulan tersebut merupakan kepercayaan yang diasosiasikan dari pengelaman masa lalu terhadap suatu objek/prodak.
Terdapat tiga macam atau jenis inferensi
1.   Didasarkan pada evaluasi
2.   Didasarkan pada kesamaan
3.   Didasarkan pada korelasional (asosiasi dari yang umum ke yang lebih khusus).
Dengan inferensi yang ada, sebagai suatu informasi konsumen dapat menijadikan bahan rujukan dalam pembuatan citra. Citra disini diartikan sebagai “total persepsi terhadap suatu objek, yang dibentuk dengan memproses informasi dari bebrbagai sumber setiap waktu”  (bahan kuliah, hal.82-85). Adapun citra yang dibentuk yaitu:
1.   Citra merek
2.   Citra toko
3.   Citra korporasi atau perusahaan.


Sumber :
 

0 komentar:

Posting Komentar